Khasanah Islam
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Alat Ukur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenal Alat Ukur. Tampilkan semua postingan

Prinsip Kerja Tachometer




Tachometer merupakan Alat yang memberikan output yang proporsional terhadap kecepatan putar (kecepatan sudut).Tachometer (penunjuk kecepatan putaran mesin) untuk mengukur kecepatan sepedamotor yang akurat, prinsip kerjanya menghitung jarak tempuh roda belakang (keliling roda belakang) dikali putaran roda belakang yang berhubungan dengan putaran mesin. 

Cara Kerja Tachometer 
Metode untuk mengukur data kecepatan putar pada tachometer : 
1. Diukur langsung pada potensiometer. 
2. Menggunakan penurunan waktu yang diambil untuk setiap pilihan celah yang dilewati cahaya laser. 

Keadaan Overflow 
1. Apabila kecepatannya terlalu lambat counter dapat mengalami overflow atau penghitungan yang dimulai dari nol lagi. 
2. Untuk mengatasinya perlu ditambahi rangkaian tambahan yang memiliki one-shot (pemacu) tambahan. 

Macam-Macam Tachometer 
1. Tachometer optik 
2. Tachometer Rotor bergigi 
3. Tachometer DC 

1. Tachometer Optik 
Tachometer Optik adalah sebuah alat untuk mengukur kecepatan sudut putar dengan besaran rpm.Tachometer optik terdiri dari jalur atau garis (stripe) yang terdapat di dalam batang lalu terdapat sebuah atau lebih photosensor yang menghadap pada batang tersebut. 

Cara Kerja Tachometer 
1. Setiap batang tersebut berputar maka photosensor akan mendeteksi jumlah stripe yang melewatinya. 
2. Kemudian akan menghasilkan output yang akan berbentuk pulsa. 
3. Pada gelombang pulsa tersebut periode ≈ kebalikan dari kecepatan angular. 
4. Dapat diukur dengan menggunakan rangkaian counter seperti yang digambarkan pada encoder batang optik.  

Keunggulan dan Kelemahan Tachometer Optik 
Keunggulan 
- Memiliki photosensor sehingga dapat mendeteksi setiap garis yang melewatinya 
 Kelemahan 
- Tidak dapat merasakan posisi dan jarak, namun dapat diatasi dengan memasang 2 buah photosensor 

2. Tachometer Rotor Bergigi 
Tachometer Rotor Bergigi terdiri dari sebuah sensor tetap dan sebuah pemutar gerigi, roda, dan bahan besi. 
Ada 2 jenis sensor yang digunakan : 
a. Variable reluctance sensor 
b. Hall effect sensor 
Pada Tachometer ini juga terdapat magnet yang menggantung sebagai sensornya 

 Cara Kerja Tachometer Rotor Bergigi 
1. Rotor berputar, kemudian bagian rotor bergigi yang akan diukur. 
2. Sensor yang berupa magnet akan mendeteksi setiap gerigi tersebut yang melewatinya. 
3. Setiap gerigi melewatinya maka medan magnet akan bertambah dan menginduksi tegangan pada belitan kawat sehingga akan dihasilkan pulsa. 
4. Pulsa tersebut akan dikonversi menjadi sebuah gelombang kotak yang bersih dengan rangkaian ambang detektor 

Keunggulan Tachometer Rotor Bergigi 
-Memberikan sebuah pulsa setiap waktu apabila gigi besi melewatinya. 
-Menghasilkan pulsa yang berupa sinyal kotak yang jernih 

3. Tachometer DC 
Tachometer DC adalah sebuah generator DC yang memproduksi tegangan keluaran DC yang proporsional dengan kecepatan batang. Tachometer DC ini terdiri dari magnet permanen dan bagian yang beputar yang terbuat dari koil. 

Prinsip Kerja Tachometer DC
Prinsip kerjanya adalah terjadinya proses konversi langsung antara kecepatan dan tegangan 

Keunggulan dan Kelemahan Tachometer DC 
• Keunggulan : Untuk menjaga inersia turun dapat diatasi dengan penggunaan sikat 
• Kelemahan : Penggunaan sikat untuk menjaga inersia dapat aus. 

 Contoh penerapan Tachometer 
• Tachometer rotor bergigi dapat digunakan pada batang motor (crankshaft) dari sebuah mesin mobil 
• Tachometer optik digunakan untuk mengetahui kecepatan sudut baling-baling 
• Mengukur rata-rata aliran darah 

Perhitungan Tachometer pada Sepeda Motor 


Berikut ini cara menghitung kecepatan sepedamotor dengan tachometer 
- Ukur keliling tapak roda belakang (tidak masalah walaupun ban sudah aus atau ganti ukuran) 

posisikan pentil pada jam 6, beri tanda ke-1 di lantai/jalan, dorong sepedamotor sampai posisi pentil kembali ke posisi jam 6, beri tanda ke-2, ukur jarak antara tanda ke-1 dan ke-2; gunakan satuan cm kemudian konversi ke kilometer. 

Misal didapat jarak antara tanda ke-1 dan ke-2 (keliling roda) = 180 cm = 0,00180 Km 
- Hitung Rasio Putaran Mesin dengan Putaran Roda Belakang / Total Reduction Ratio (karena putaran roda belakang tidak secepat putaran mesin). 

Z2/Z1 Primary Reduction – Gigi pada crankshaft dengan gigi pada rumah kopling. 
Z4/Z3 Transmission Gear – Pilih perbandingan posisi gigi tertinggi untuk menghitung top speed. 
Z6/Z5 Secondary Reduction – Jumlah mata/gigi Sprocket belakang dibagi sprocket depan. 
Zx = x, angka ganjil = poros pemutar, angka genap = poros diputar - 

Rumus Total Reduksi Rasio TRR = Z2/Z1 x Z4/Z3 x Z6/Z5 

Contoh: 
Putaran mesin yang dibaca oleh tachometer = 10.500 rpm = 630.000 
putaran per jam (10.500 x 60 menit) Keliling roda belakang = 180 cm = 0,00180 Km 
TRR = 8,497 Primary Reduction = 72/22 
Transmission Gear = 19/22 (top gear, gigi ke-6) 
Secondary Reduction = 42/14 
Jadi awal 630.000 putaran di mesin per jam tinggal menjadi 74.298,246 putaran di roda per jam (630.000 / 8,497). 
Tinggal dikalikan dengan keliling roda belakang: 74.298,246 x 0,00180 = 133,737 km/jam 


Sumber : simplefisika.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Osciloscope



Osiloskop adalah alat ukur elektronika yang berfungsi memproyeksikan bentuk sinyal listrik agar dapat dilihat dan dipelajari. Osiloskop dilengkapi dengan tabung sinar katode Peranti pemancar elektron memproyeksikan sorotan elektron ke layar tabung sinar katode. Sorotan elektron membekas pada layar. Suatu rangkaian khusus dalam osiloskop menyebabkan sorotan bergerak berulang-ulang dari kiri ke kanan. Pengulangan ini menyebabkan bentuk sinyal kontinyu sehingga dapat dipelajari.

FUNGSI OSCILLOSCOPE
  1. Untuk menyelidiki gejala yang bersifat periodik.
  2. Untuk melihat bentuk gelombang kotak dari tegangan
  3. Untuk menganalisis gelombang dan fenomena lain dalam rangkaian elektronika
  4. Dapat melihat amplitudo tegangan, periode, frekuensi dari sinyal yang tidak diketahui
  5. Untuk melihat harga-harga momen tegangan dalam bentuk sinus maupun bukan sinus
  6. Digunakan untuk menganalisa tingkah laku besaran yang berubah-ubah terhadap waktu, yang ditampilkan pada layar
  7. Mengetahui beda fasa antara sinyal masukan dan sinyal keluaran.
  8. Mengukur keadaan perubahan aliran (phase) dari sinyal input
  9. Mengukur Amlitudo Modulasi yang dihasilkan oleh pemancar radio dan generator  pembangkit sinyal
  10. Mengukur tegangan AC/DC dan menghitung frekuensi
PRINSIP KERJA OSCILLOSCOPE 

Komponen utama osiloskop adalah tabung sinar katoda ( CRT ). Prinsip kerja tabung sinar katoda adalah sebagai berikut: Elektron dipancarkan dari katoda akan menumbuk bidang gambar yang dilapisi oleh zat yang bersifat flourecent. Bidang gambar ini berfungsi sebagai anoda. Arah gerak elektron ini dapat dipengaruhi oleh medan listrik dan medan magnetik. Umumnya osiloskop sinar katoda mengandung medan gaya listrik untuk mempengaruhi gerak elektron kearah anoda. Medan listrik dihasilkan oleh lempeng kapasitor yang dipasang secara vertikal, maka akan terbentuk garis lurus vertikal dinding gambar. Selanjutnya jika pada lempeng horizontal dipasang tegangan periodik, maka elektron yang pada mulanya bergerak secara vertikal, kini juga bergerak secara horizontal dengan laju tetap.Sehingga pada gambar terbentuk grafik sinusoidal.
Sebuah benda bergetar sekaligus secara harmonik, getaran harmonik (super  posisi) yang berfrekuensi dan mempunyai arah getar sama akan menghasilkan satu getaran harmonik baru berfrekuensi sama dengan amplitudo dan fase tergantung pada amplitudo dan frekuensi setiap bagian getaran harmonik tersebut. Hal itu berdasarkan metode penambahan trigonometri atau lebih sederhananya lagi dengan menggunakan bilangan kompleks. Bila dua getaran harmonik super posisi yang berbeda, frekuensi terjadi getaran yang tidak lagi periodik.
Basis waktu secara periodik menggerakkan bintik cahaya dari kiri kekananmelalui permukaan layar. Tegangan yang akan diperiksa dimasukkan ke Y atau masukan vertikal osiloskop, menggerakkan bintik keatas dan kebawah sesuai dengan nilai tegangan yang dimasukkan. Selanjutnya bintik tersebut menghasilkan jejak berkas gambar pada layar yang menunjukkan variasi tegangan masukan sebagai fungsi dari waktu. Bila tegangan masukan berkurang dengan laju yang cukup pesat gambar akan kelihatan sebagai sebuah pola yang diam pada layar.


BAGIAN- BAGIAN OSCILLOSCOPE




KESALAHAN OSCILLOSCOPE
  1. Dapat tarjadi kebakaran pada lapisan fosfor layar jika membiarkan ada titik terang pada layar walaupun sesaat
  2. Lupa memastikan alat yang diukur dan oscilloscope ditanahkan (digroundkan). Disamping untuk keamanan hal ini juga untuk mengurangi noise dari frekuensiradio atau jala-jala.
  3. Lupa memastikan probe dalam keadaan baik
  4. Dapat merusak  oscilloscope jika pada saat menyalakan, power saklar masih dalam keadaan on
  5. Dapat terjadi sengatan listrik jika pada saat memperbaiki atau membersihkan Oscilloscope masih terhubung dengan jaringan listrik 220V
LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN OSCILLOSCOPE
  1. Tombol ON-OFF pada posisi OFF
  2. Posisikan semua tombol yang memiliki tiga posisi pada posisi tengah.
  3. Putar tombol INTENSITY pada posisi tengah.
  4. Dorong tombol PULL 5X MAG ke dalam untuk memperoleh posisi normal.
  5. Dorong tombol TRIGGERING LEVEL pada posisi AUTO
  6. Sambungkan kabel saluran listrik bolak balik ke stop-kontak ACV
  7. Putar tombol ON-OFF pada posisi ON. Kira-kira 20 detik kemudian satu jalur garis akan tergambar pada layar CRT. Jika garis ini belum terlihat, putar tombol INTENSITY searah jarum jam.
  8. Atur tombol FOCUS dan INTENSITY untuk memperjelas jalur garis
  9. Atur ulang posisi vertikal dan horisontal sesuai dengan kebutuhan.
  10. Sambungkan probe ke input saluran-A/ channel -A (CH-A) atau ke inputsaluran B/ channel -B (CH-B) sesuai kebutuhan.
  11. Sambungkan probes ke terminal CAL untuk memperoleh kalibrasi 0,5Vp-p.
  12. Putar pelemah vertikal (vertical attenuator), saklar VOLTS/DIV  pada posisi 10 mV, dan putar tombol VARIABLE  searah jarum jam. Putar TRIGGERING SOURCE  ke CH-A, gelombang persegi empat (square-wave) akan terlihat di layar.
  13. Jika tampilan gelombang persegi empat kurang sempurna, atur  trimmer yang ada pada probe sehingga bentuk gelombang terlihat nyata.
  14. Pindahkan probe dari terminal CAL 0,5Vp-p. Oscilloscope sudah dapat digunakan.
KESELAMATAN KERJA OSCILLOSCOPE
  1. Sebelum di pasangkan ke sumber arus oscilloscope lalukan pengaturan baseline trace
  2. Groundkan oscilloscope ke tanah agar tidak terjadi kecelakaan tersengat listrik yang tidak diinginkan pada saat melakukan kerja
  3. Tempatkan oscilloscope di tempat yang datar agar tidak jatuh
  4. Matikan arus listrik pada saat membersihkan oscilloscope agar tidak tersengat arus listrik

Sumber : www.scribd.com/doc/38125359/Tugas-Oscilloscope
                id.wikipedia.org/wiki/Osiloskop

Prinsip Kerja Spherometer

SPHEROMETER adalah alat untuk mengukur kelengkungan permukaan. Spherometer adalah menggunakan perangkat dalam mengukur radius kelengkungan permukaan bola. Sebagai contoh, dapat digunakan untuk mengukur ketebalan slide mikroskop atau kedalaman depresi pada slide. Bahkan kelengkungan bola dapat diukur dengan menggunakan Spherometer. Spherometer terdiri dari mikrometer sekrup berulir ke tripod kecil dengan skala vertikal diikat. Kepala sekrup memiliki disk lulus digunakan untuk mengukur putaran fraksional dari sekrup. Skala vertikal digunakan untuk mengukur tinggi atau kedalaman kelengkungan permukaan. Pembagian skala vertikal berada di 1 mm, yang merupakan pitch dari benang sekrup. Kepala sekrup yang lulus ke dalam 100 divisi. Spherometer terdiri dari scrup yang bergerak ditengah-tengah dan mempunyai 3 kaki yang ujungnya merupakan titik sudut sama. sisi atasnya berbentuk piringan berbentuk lingkaran melekat pada scrup dan pembagian skalanya pada pinggir piringan,batang skala sejajar dengan skrup.

Secara umum spherometer terdiri dari: A. Sebuah lingkaran dasar tiga kaki luar, cincin, atau setara, memiliki radius yang diketahui dari lingkaran dasar. Perhatikan bahwa kaki luar spherometer ditampilkan dapat dipindahkan ke bagian dalam lubang set untuk mengakomodasi lensa kecil. B. kaki pusat, yang dapat menaikkan atau menurunkan. C. perangkat pembaca untuk mengukur jarak pusat kaki dipindahkan. 
PRINSIP KERJA SPHEROMETER 
Spherometer ini dapat mengukur kedalaman sebuah lengkungan. Saat spherometer diletakkan pada lensa (permukaannya lengkung) maka pada skrup pusat akan berputar naik atau turun sesuai dengan kelengkungan yang dimiliki lensa tersebut. sedangkan 3 kaki yang sama sisi lainnya memantapkan posisi spherometer pada lensa agar tidak mudah bergeser. Pada saat skup pusat berputar mengikuti lengkungan lensa, maka piringan yang terletak pada kepala skup akan ikut berputar. Sehingga dapat terbaca skala kelengkungan lensa dengan memperhatikan skala yang ada dipinggir piringan dengan skala 0 – 10,0 m ke atas jika lensa yang diuku lengkung ke atas dan 0 – 10,0 ke bawah jika lensa yang diukur lengkung ke bawah dan ditambah dengan skala piringan yang bernilai 0,01 m. 
PERHITUNGAN JARI-JARI BOLA DENGAN MENGGUNAKAN SPHEROMETER 
Jika pada spherometer akan mengukur diameter bola maka : Pertimbangkan lingkaran dimana DE jarak diameter yang membagi dua AC. Lihat gambar di samping Jika kita mengetahui jarak BC dan DB kita dapat menemukan jari-jari lingkaran sebagai berikut:





Maka dapat disimpulkan bahwa R= r^2/2h+ h/2h
Dimana, 
R = jari-jari bola 
h = ukuran yang diperoleh oleh Spherometer 
r = jarak pusat skrup dengan skrup yang disampingnya 

 Sumber : simplefisika.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur Profile Projektor


Alat ini berfungsi untuk mengukur dimensi (panjang, lebar, diameter dan lainnya) dan juga dapat untuk mengukur sudut. Dengan ketelitian alat 1 µm untuk pengukuran panjang dan 2’ (2 menit) untuk pengukuran sudut. Pada percobaan ini ingin diketahui demensi dari suatu benda uji yangsangat kecil.Dengan profile projector dimensi dari benda ini dapat diukur denganmenggunakan proyeksi (bayangan) dari benda uji ini.

Gambar menunjukkan pengukuran dimensi lebar dengan profile projector.

Profile projektor yang kami gunakan memiliki tingkat ketelitian pengukuranpanjang sampai 1 mikron (1 µm) dan ketelitian sudut mencapai 2 menit.

Komponen dari alat ini yaitu :

• display digital sumbu x-y,
• lensa kondensor dan proyektor,
• bidang uji,
• batang atur fokus,
• pengatur jarak sumbu x-y,
• pengatur sudut,
• sinar projektor,

Lensa kondensor berfungsi untuk mengarahkan arah cahaya kepadaobjek uji. Dan lensa proyektor berfungsi untuk meneruskan profile ataubayangan dari objek uji.

Cara kerja dari Profile Projector ini dapat dijelaskan dengan beberapa langkah, yaitu :

1.Dimensi Linier

a) Objek uji diletakkan di bidang uji dan dijepit
b) Proyektor dinyalakan sehingga bayangan dari objek terlihat di displaylensa proyektor
c) Fokus dari projektor disesuaian sampai kelihatan jelas
d) Pengatur jarak sumbu x-y dipindahkan ke acuan titik dari objek ujisecara vertikal atau horizontal


e) Display digital sumbu x-y diatur hingga menunjukkan angka nol
 f) Pengatur jarak sumbu x-y digeser ke titik lain yang ingin diukur  jaraknya.

 

2. Sudut

Sudut antara dua permukaan obyek ukur dapat diukur melaluibayangan yang terbentuk melalui kaca buram pada projektor profil. Setelahbayangan difokuskan (diperjelas garis tepinya) dengan cara mengatur letakbenda ukur di depan lensa kondensor projektor profil sudut ke dua tepibayangan yang akan ditentukan besarnya dapat diukur dengan cara berikut:

Salah satu garis silang pada kaca buram dibuat berimpit dengansalah satu tepi bayangan, dengan cara menggerakkan meja (pada manabenda ukur diletakkan) ke kiri/kanan dan atas atau bawah dan memutar piringan kaca buram (garis silang). Setelah garis berimpit pada tepibayangan, kemiringan garis silang dibaca pada skala piringan denganbantuan skala nonius. Kemudian, proses diulang sampai ganis bersangkutanberimpit dengan tepi bayangan yang lain. Pembacaan skala piningandilakukan lagi. Dengan demikian sudut yahg dicari adalah merupakan selisihdari pembacaan yang pertama dan yang kedua.


Prinsip Kerja Alat Ukur Rockwell Hardness


Kekerasan adalah ukuran ketahanan suatu material terhadap deformasi plastis lokal. Nilai kekerasan tersebut dihitung hanya pada tempat dilakukannya pengujian tersebut (lokal), sedangkan pada tempat lain bisa jadi kekerasan suatu material berbeda dengan tempat yang lainnya. Tetapi nilai kekerasan suatu material adalah homogen dan belum diperlakupanaskan secara teoritik akan sama untuk tiap-tiap titik.
Metoda Pengujian Kekerasan
Pengujian kekerasan sering sekali dilakukan karena mengetahui kekerasan suatu material maka (secara umum) juga dapat diketahui beberapa sifat mekanik lainnya, seperti kekuatan. Pada pengujian kekerasan dengan metoda penekanan, penekan kecil (identor) ditekankan pada permukaan bahan yang akan diuji dengan penekanan tertentu. Kedalaman atau hasil penekanan merupakan fungsi dari nilai kekerasan, makin lunak suatu bahan makin luas dan makin dalam akibat penekanan tersebut, dan makin rendah nilai kekerasannya.
Kerasan Rockwell
Pengujian Rockwell merupakan cara yang paling umum digunakan untuk mengukur kekerasan, karena pengujiannya sederhana untuk dikerjakan dan tidak dibutuhkan kemampuan khusus. Dalam uji kekerasan Rockwell ada beberapa skala yang dapat digunakan dan kombinasi jenis identor dan beban yang diterapkan. Identor yang digunakan ada dua macam, yaitu:
  • Bola baja yang dimiliki diameter 1/16, 1/8, 1/4, 1/2  in .
  • Kerucut intan yang digunakan untuk bahan-bahan yang keras.
Dengan sistem ini, angka kekerasan dapat ditentukan berdasarkan perbedaan kedalaman hasil penetrasi yang diawali beban minor dan diikuti oleh beban mayor yang lebih besar. Besarnya beban minor adalah 10 kg dan beban mayor adalah 60, 100, 150 kg. Kekerasan dapat dibaca secara secara langsung dan hanya membutuhkan beberapa detik saja.
Mesin  Uji Kekerasan Rockwell
Banyak digunakan model dan tipe mesin uji kekerasan Rockwell pada saat ini. Penerapan penggunaan  beban ada yang dengan pegas maupun benda mati. Beberapa alat menggunakan alat pencatat dial, akan tetapi penggunaan pencatat digital mulai popoler akibat peningkatan dari kemampuan baca alat. Bahkan ada yang menggunakan microprocessors untuk mengontrol proses pengujian dan dapat dihubungkan dengan komputer.
Bermacam-macam metode telah dikembangkan untuk dapat meningkatkan funsi dari Mesin uji kekerasan Rockwell. Akan tetapi prinsip dasar dari mesin pengujian itu semua ada pada mesin yang menggunakan beban mati, seperti pada Gambar .


Gambar Skema mesin Uji kekerasan Rockwell dengan beban mati

Penggunaan Mesin Uji Kekerasan Rockwell

Lokasi titik pengujian pada mesin uji kekerasan sangat penting. Bila penekanan dilakukan terlalu dekat dengan bagian tepi dari benda uji maka harga kekerasan yang didapat akan berkurang dari yang sebenarnya. Untuk memeastikan hasil pengukuran kekerasan yang didapat akurat, jarak penekanan minimal haruslah dua atau satu setengah diameter penekanan dari bagian tepi benda uji. Sedangkan jarak minimum antara satu penekanan dengan penekanan yang lain minimal lima kali diameter penekanan.
Pemilihan skala yang tepat juga sangat mempengaruhi terhadap hasil pengukuran kekerasan. Contohnya pada material lunak digunakan Rockwell B dengan indentor bola baja, bila diganti dengan yang lain maka harga kekerasan yang didapat tidak benar. Tidak ada batsan maksimum pada pengukuran kekerasan dengan menggunakan indentor intan. Tetapi bagaimanapun,Rockwell C sebaiknya tidak digunakan pada material tungsteen, karena material tersebut akan retak atau umur indentornya intan akan berkurang. Rockwell A adalah skala yang dapat diterima dalam pengujian kekerasan produk industri karbida. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel


sumber : yefrichan.wordpress[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur Bore Gauge

Bore gauge adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur diameter dalam suatu cylinder. Dial gauge yang terletak pada bagian atas dapat dilepas dengan melonggarkan securing position posisi dial gauge. Grip adalah pemegang untuk memposisikan ketepatan pengukuran. Ujung batang pengukur (measuring point) dapat bergerak bila ditekan dan akan menggerakkan jarum pada dial gauge antara 0-2 mm dari harga standarnya. Rod end akan diikat oleh mur pengikat tongkat pengukur (rod securing thread) tongkat pengukur (rod end) ini dapat ditukar-tukar ukurannya menurut kebutuhannnya. 
 
Guide plate dipergunakan untuk membantu menempatkan kedudukan dial gauge pada kedudukan horizontal dan untuk mendapatkan harga pengukuran yang maksimum. Pada dial gauge model baru yang dipergunakan pada bore gauge skala penunjukkan jarum terdiri dari angka 0 - 50 pada setengah lingkaran dari arah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Masukkan bore gauge ke dalam cylinder dengan posisi seperti gambar di bawah ini.

Posisi yang benar dalam melakukan pengukuran diamater dalam suatu silinder adalah pada posisi ditengah-tengah seperti ditunjukan pada gambar. 









Pada gambar A posisi b adalah bore gauge yang benar, dan apabila terjadi penyimpangan maka jarum besar akan bergerak searah jarum jam. Bila terjadi penyimpangan ( d ) dan ( f ) maka jarum akan berputar berlawanan dengan arah putaran jarum jam.

APLIKASI BORE GAUGE

Aplikasi bore gauge tidak seluas aplikasi inside micrometer, karena bore gauge memiliki tangkai pemegang tools yang panjang dan sebuah dial gauge untuk membaca hasil ukur, sehingga pada tempat-tempat yang sempit tidak bisa menggunakan bore gauge, contohnya adalah bore untuk bushing camshaft.

Bore gauge lebih banyak digunakan untuk mengukur ID cylinder liner, ID Main bearing hole, ID housing hydraulic cylinder atau ID lain yang tempatnya tidak sempit atau bebas.

CONTOH PEMBACAAN HASIL UKUR BORE GAUGE


Misalnya kita akan mangukur diameter silinder. Pertama kali kita mengukur diameter tersebut dengan vernier caliper untuk mengetahui diameter secara kasar guna memilih rod end yang tepat untuk dipasangkan pada bore gauge (atau lihat ukuran standarnya pada maintenance standard).
Misalnya didapat ukuran vernier caliper 75 mm, maka kita memilih harga rod end yang bertanda 75 pada tengah - tengah standard dari bore gauge. Karena kita mendapatkan hasil pengukuran pertama 75 mm maka kita pergunakan micrometer yang 75 - 100 mm. Kemudian set harga micrometer dengan standar ukuran untuk menentukan posisi nolnya. Pasangkan micrometer pada micrometer stand. Pasangkan dial gauge dengan mengendorkan mur pengikat posisi dial gauge (dial gauge securing position) hingga jarum kecil bergerak sampai pada angka satu dan kencangkan mur pengikatnya. Pasangkan bore gauge pada micrometer dengan rod end dan ujung jarum pada anvil dan spindle micrometer sampai gerak jarum besar maksimum searah jarum jam kemudian pada posisi tersebut putar outer rim hingga angka nol pada posisi jarum tersebut.
Apabila jarum kecil menunjukkan pada angka satu dan jarum besar pada strip yang ke-22 setelah bergerak dari nol searah jarum jam, jadi hasil pengukuran :
  • Jarum kecil = 1 pada pengetesan = 75 mm
  • Jarum besar = 22 x 0,01 mm  =  0,22 mm
  • Hasil pembacaan = 75 - 0.22 = 74.78 mm
Apabila jarum kecil menunjukkan pada angka satu dan jarum besar pada strip yang ke-25 setelah bergerak dari nol berlawanan jarum jam, jadi hasil pengukuran :
  • Jarum kecil  =  1 pada pengetesan   = 75 mm
  • Jarum besar  =  25 x 0,01 mm   =  0,25 mm +
  • Hasil pembacaan  = 75 + 0.25 = 75.25 mm
Untuk mempermudah pembacaan hasil pengukuran:
  • Bila jarum dial gauge bergerak searah jarum jam maka hasil pengukuran dikurangi atau dengan kata lain diameter yang diukur lebih kecil dari harga standarnya.
  • Bila jarum dial gauge bergerak berlawanan arah jarum jam maka hasil pengukuran ditambahkan atau dengan kata lain diameter yang diukur lebih besar dari harga standarnya.
Untuk pengukuran diameter cylinder yang tidak ada pada ukuran rod end perlu ditambahkan dengan spacer (shim). Pada setiap bore gauge terdapat spacer setebal: 1 mm; 2 mm; 3 mm. Misalnya ukuran diameter 78 atau 83 mm dengan vernier caliper. Untuk pemilihan rod end pada bore gauge ambil ukuran 75 mm atau 80 mm kemudian tambahkan spacer setebal 3 mm dan kemudian set bergantian pada micrometer dengan ukuran 78 atau 83 mm baru dipergunakan untuk melakukan pengukuran.

sumber : catatan-piper-comex.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur CMM (Coordinat Measuring Machine)

CMM adalah sebuah instrument yang digunakan untuk mengukur tiga dimensi (3D), dimensi yang diukur adalah ruang yang memiliki panjang, lebar dan tinggi, yang diterjemahkan ke dalam system koordinat kartesian X, Y dan Z.  Kemudian data koordinat yang terukur oleh CMM dikonversikan menjadi data pengukuran seperti posisi, diameter, jarak, sudut, dsb.  Secara sederhana cara kerja CMM adalah membaca perubahan posisi dari suatu titik origin acuan nol suatu part yang diukur atau terhadap origin mesin itu sendiri.  Perubahan posisi tersebut kemudian di rekam dan diproses menjadi data hasil pengukuran menggunakan software yang disertakan dalam CMM.

CMM merupakan alat pengukur multi fungsi berkecepatan tinggi yang menghasilkan akurasi dan efisiensi pengukuran yang tinggi. Pada prinsipnya CMM adalah kebalikan dari CNC. Pada CNC kordinat yang dimasukkan menghasilkan gerakan pahat pada sumbu X, Y dan Z. Sedangkan pada CMM kontak antara probe dengan benda kerja menghasilkan kordinat. Selain itu jika pada mesin CNC menggunakan bantalan peluru bersirkulasi (circulated ball bearing) maka pada mesin CMM menggunakan batalan udara (air pad bearing) sehingga gerakannya sangat halus.
Untuk menjamin keakuratan konstruksi CMM dibuat sangat kaku (rigid). Salah satu caranya dengan menggunakan granit sebagai meja atau bidang acuan.



Pengenalan Komponen 3D CMM
CMM terdiri dari beberapa bagian utama yang saling terkait dan mempengaruhi akurasi mesin tersebut, bagian-bagian tersebut adalah:
  1. Working Table, merupakan tempat meletakan part yang akan diukur.  Rata-rata terbuat dari batu granit.
  2. Support, merupakan kaki untuk menopang seluruh beban CMM.  Beberapa CMM dilengkapi air damper untuk mengurangi efek getaran yang dihasilkan lingkungan sekitar CMM.
  3. Air bearing, CMM menggunakan air bearing sebagai landasan untuk bergerak bagi semua axis.
  4. Axis Guideways, adalah track atau lintasan semua axis untuk bergerak, memiliki kontak langsung dengan air bearing.  Material rata-rata terbuat dari alumunium ada juga yang menggunakan batu granit, untuk mesin dengan akurasi lebih tinggi menggunakan bahan ceramic.
  5. Motor, adalah unit untuk menggerakan axis, khusus untuk mesin otomatis atau hanya motorized menggunakan joystick.
  6. Joystick, merupakan control panel untuk memudahkan operator mengoperasikan mesin.
  7. Controller, memiliki beragam fungsi diantaranya; interface antara mesin dengan PC, motor driver sebagai sumber daya bagi pergerakan motor, data storage untuk menyimpan file-file correction atau program penggerak CMM, ADC dan DAC, dll.
  8. Probe Head, berfungsi sebagi trigger bagi CMM untuk merekam posisi koordinat part yang disentuhnya (touch point).  Beberapa CMM dilengkapi non-contact Probe Head untuk mendapatkan touching point yang banyak bisa mencapai ratusan bahkan ribuan point untuk keperluan CAD/ CAM.  Untuk menyentuh part tidak dapat langsung disentuh ke part tetapi harus melalui perantara stylus yang berfungsi sebagi peraba.
  9. Sensor-sensor.  CMM memiliki banyak sensor untuk meningkatkan akurasinya; sensor tersebut diantaranya; temperature sensor, overcurrent sensor, limit switch, home position sensor, air pressure sensor, reading head.
  10. Linear Scale.  Unit ini sebagai transducer untuk merubah perubahan posisi menjadi arus atau tegangan yang kemudian dengan menggunakan software menjadi data-data koordinat X, Y dan Z.
  11. Software.  Merupakan penghubung antara user dengan mesin.
Silahkan download katalog CMM disini untuk lebih detailnya.





sumber : daniw24.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur Surface Roughness Measurement



Alat ini berfungsi untuk mengukur kekasaran dari suatu permukaan.Dengan standar atau properties pengukuran Ra, Rz, Rq, Rmax. Dan denganketelitian alat 0,02 µm. Dalam praktikum ini ingin dicari berapa nilaikekasaran dari permukaan benda uji yaitu berupa metal blok. SurfaceRougness Measurement menguji kekasaran permukaan denganmenggunakan dial indicator sebagai sensor untuk memeriksa profil daripermukaan benda uji.

Komponen dari alat ini yaitu :

• dial indicator,
• bidang uji,
• batang gerak
• skala tekanan
• display
• printer data

Cara kerja dari Surface Roughness Measurement

dapat dijelaskan dengan beberapa langkah, yaitu :

1.Meletakkan benda uji (berupa metal blok)

2.Dial indicator (berupa jarum) diatur sehingga ujung dari dial indicator beradadalam posisi stabil (di tengah skala) pada pembacaan skala tekanan terhadappermukaan objek pengukuran.



3.Sebelum alat dijalankan terlebih dahulu memasukkan faktor-faktor sepertipanjang (length) dari permukaan objek yang ingin diperiksa, standar yangingin digunakan (Ra, Rq, Rz, Rmax, dan parameter lainnya).

4.Pada saat pengambilan data, posisi dial indicator bergerak dengan konstansesuai dengan sumbu horizontal dan sejajar benda uji (berada pada garislurus).


5.Kemudian bila kita telah puas dengan hasil yang didapat maka kita dapatmencetak hasil praktikum dengan printer yang ada pada alat ukur.Dengan ketelitian sebesar 0,02 µm alat ini menghasilkan suatu grafikdengan menunjukkan besaran Ra, Rz, Rq, Rmax yang dapat digunakanuntuk penghitungan dalam kelurusan dan kedataran.

Prinsip Kerja Alat Ukur Roundness Tester

klik image untuk memperbesar gambar

Alat ukur ini berfungsi untuk mengukur profil kebulatan dari suatubenda. Dengan ketelitian alat 0,01 µm.

Untuk mengukur kebulatan dari suatu benda digunakan Roundness Tester . Alat ini menggunakan dial indicator sebagai sensor untuk memeriksaprofil dari permukaan benda uji dan prinsip alat yang digunakan adalah mejaputar.

Komponen dari alat ini yaitu :

•dial indicator
•meja putar
•display
•kompressor

Berdasarkan putaran, maka alat ukur kebulatan(roundness tesfer) dapatdiklasifikasikan menjadi dua, yaitu jenis dengan sensor pular dan jenisdengan meja putar. Pada praktikum dipergunakan tipe meja berputar.Jenis dengan meja putar memiliki karakteristik :

• Karena sensor tidak beputar, berbagai pengukuran yang berkaitan dengankebulatan dapat dilaksanakan, misalnya konsentrisitas, kesamaan sumbu,kesejajaran, kesilindrisan, kelurusan dan ketegaklurusan. Adanyakebebasan untuk menempatkan sensor pada benda ukur yang berputar,misaInya pada alur dan bagian bawah sirip tanpa harus memakai batangsensor yang panjang.

• Pengukuran keIurusan bisa dilakukan dengan menambahkan peralatan untukmenggerakkan sensor dalam arah transvesal (vertikal) tanpa harusmengubah posisi spindel.

• Berat benda ukur terbatas karena keterbatasan kemampuan spindel untukmenahan beban, demi untuk menjamin keteIitian. Penyimpangan Ietak titikberat benda ukur reIatif terhadap sumbu putar.

• Alat pengatur posisi dan kemiringan benda ukur (sentering & leveling) terletakpada meja. OIeh sebab itu, pengaturan secara cermat supaya sumbu objek ukur berimpit dengan sumbu putar, hanya mungkin dilakukan sewaktu mejadalam keadaan tak berputar.
Share

Planetcopas