Khasanah Islam

Prinsip Kerja Alat Ukur Bore Gauge

Bore gauge adalah alat yang dapat digunakan untuk mengukur diameter dalam suatu cylinder. Dial gauge yang terletak pada bagian atas dapat dilepas dengan melonggarkan securing position posisi dial gauge. Grip adalah pemegang untuk memposisikan ketepatan pengukuran. Ujung batang pengukur (measuring point) dapat bergerak bila ditekan dan akan menggerakkan jarum pada dial gauge antara 0-2 mm dari harga standarnya. Rod end akan diikat oleh mur pengikat tongkat pengukur (rod securing thread) tongkat pengukur (rod end) ini dapat ditukar-tukar ukurannya menurut kebutuhannnya. 
 
Guide plate dipergunakan untuk membantu menempatkan kedudukan dial gauge pada kedudukan horizontal dan untuk mendapatkan harga pengukuran yang maksimum. Pada dial gauge model baru yang dipergunakan pada bore gauge skala penunjukkan jarum terdiri dari angka 0 - 50 pada setengah lingkaran dari arah jarum jam atau berlawanan arah jarum jam. Masukkan bore gauge ke dalam cylinder dengan posisi seperti gambar di bawah ini.

Posisi yang benar dalam melakukan pengukuran diamater dalam suatu silinder adalah pada posisi ditengah-tengah seperti ditunjukan pada gambar. 









Pada gambar A posisi b adalah bore gauge yang benar, dan apabila terjadi penyimpangan maka jarum besar akan bergerak searah jarum jam. Bila terjadi penyimpangan ( d ) dan ( f ) maka jarum akan berputar berlawanan dengan arah putaran jarum jam.

APLIKASI BORE GAUGE

Aplikasi bore gauge tidak seluas aplikasi inside micrometer, karena bore gauge memiliki tangkai pemegang tools yang panjang dan sebuah dial gauge untuk membaca hasil ukur, sehingga pada tempat-tempat yang sempit tidak bisa menggunakan bore gauge, contohnya adalah bore untuk bushing camshaft.

Bore gauge lebih banyak digunakan untuk mengukur ID cylinder liner, ID Main bearing hole, ID housing hydraulic cylinder atau ID lain yang tempatnya tidak sempit atau bebas.

CONTOH PEMBACAAN HASIL UKUR BORE GAUGE


Misalnya kita akan mangukur diameter silinder. Pertama kali kita mengukur diameter tersebut dengan vernier caliper untuk mengetahui diameter secara kasar guna memilih rod end yang tepat untuk dipasangkan pada bore gauge (atau lihat ukuran standarnya pada maintenance standard).
Misalnya didapat ukuran vernier caliper 75 mm, maka kita memilih harga rod end yang bertanda 75 pada tengah - tengah standard dari bore gauge. Karena kita mendapatkan hasil pengukuran pertama 75 mm maka kita pergunakan micrometer yang 75 - 100 mm. Kemudian set harga micrometer dengan standar ukuran untuk menentukan posisi nolnya. Pasangkan micrometer pada micrometer stand. Pasangkan dial gauge dengan mengendorkan mur pengikat posisi dial gauge (dial gauge securing position) hingga jarum kecil bergerak sampai pada angka satu dan kencangkan mur pengikatnya. Pasangkan bore gauge pada micrometer dengan rod end dan ujung jarum pada anvil dan spindle micrometer sampai gerak jarum besar maksimum searah jarum jam kemudian pada posisi tersebut putar outer rim hingga angka nol pada posisi jarum tersebut.
Apabila jarum kecil menunjukkan pada angka satu dan jarum besar pada strip yang ke-22 setelah bergerak dari nol searah jarum jam, jadi hasil pengukuran :
  • Jarum kecil = 1 pada pengetesan = 75 mm
  • Jarum besar = 22 x 0,01 mm  =  0,22 mm
  • Hasil pembacaan = 75 - 0.22 = 74.78 mm
Apabila jarum kecil menunjukkan pada angka satu dan jarum besar pada strip yang ke-25 setelah bergerak dari nol berlawanan jarum jam, jadi hasil pengukuran :
  • Jarum kecil  =  1 pada pengetesan   = 75 mm
  • Jarum besar  =  25 x 0,01 mm   =  0,25 mm +
  • Hasil pembacaan  = 75 + 0.25 = 75.25 mm
Untuk mempermudah pembacaan hasil pengukuran:
  • Bila jarum dial gauge bergerak searah jarum jam maka hasil pengukuran dikurangi atau dengan kata lain diameter yang diukur lebih kecil dari harga standarnya.
  • Bila jarum dial gauge bergerak berlawanan arah jarum jam maka hasil pengukuran ditambahkan atau dengan kata lain diameter yang diukur lebih besar dari harga standarnya.
Untuk pengukuran diameter cylinder yang tidak ada pada ukuran rod end perlu ditambahkan dengan spacer (shim). Pada setiap bore gauge terdapat spacer setebal: 1 mm; 2 mm; 3 mm. Misalnya ukuran diameter 78 atau 83 mm dengan vernier caliper. Untuk pemilihan rod end pada bore gauge ambil ukuran 75 mm atau 80 mm kemudian tambahkan spacer setebal 3 mm dan kemudian set bergantian pada micrometer dengan ukuran 78 atau 83 mm baru dipergunakan untuk melakukan pengukuran.

sumber : catatan-piper-comex.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur CMM (Coordinat Measuring Machine)

CMM adalah sebuah instrument yang digunakan untuk mengukur tiga dimensi (3D), dimensi yang diukur adalah ruang yang memiliki panjang, lebar dan tinggi, yang diterjemahkan ke dalam system koordinat kartesian X, Y dan Z.  Kemudian data koordinat yang terukur oleh CMM dikonversikan menjadi data pengukuran seperti posisi, diameter, jarak, sudut, dsb.  Secara sederhana cara kerja CMM adalah membaca perubahan posisi dari suatu titik origin acuan nol suatu part yang diukur atau terhadap origin mesin itu sendiri.  Perubahan posisi tersebut kemudian di rekam dan diproses menjadi data hasil pengukuran menggunakan software yang disertakan dalam CMM.

CMM merupakan alat pengukur multi fungsi berkecepatan tinggi yang menghasilkan akurasi dan efisiensi pengukuran yang tinggi. Pada prinsipnya CMM adalah kebalikan dari CNC. Pada CNC kordinat yang dimasukkan menghasilkan gerakan pahat pada sumbu X, Y dan Z. Sedangkan pada CMM kontak antara probe dengan benda kerja menghasilkan kordinat. Selain itu jika pada mesin CNC menggunakan bantalan peluru bersirkulasi (circulated ball bearing) maka pada mesin CMM menggunakan batalan udara (air pad bearing) sehingga gerakannya sangat halus.
Untuk menjamin keakuratan konstruksi CMM dibuat sangat kaku (rigid). Salah satu caranya dengan menggunakan granit sebagai meja atau bidang acuan.



Pengenalan Komponen 3D CMM
CMM terdiri dari beberapa bagian utama yang saling terkait dan mempengaruhi akurasi mesin tersebut, bagian-bagian tersebut adalah:
  1. Working Table, merupakan tempat meletakan part yang akan diukur.  Rata-rata terbuat dari batu granit.
  2. Support, merupakan kaki untuk menopang seluruh beban CMM.  Beberapa CMM dilengkapi air damper untuk mengurangi efek getaran yang dihasilkan lingkungan sekitar CMM.
  3. Air bearing, CMM menggunakan air bearing sebagai landasan untuk bergerak bagi semua axis.
  4. Axis Guideways, adalah track atau lintasan semua axis untuk bergerak, memiliki kontak langsung dengan air bearing.  Material rata-rata terbuat dari alumunium ada juga yang menggunakan batu granit, untuk mesin dengan akurasi lebih tinggi menggunakan bahan ceramic.
  5. Motor, adalah unit untuk menggerakan axis, khusus untuk mesin otomatis atau hanya motorized menggunakan joystick.
  6. Joystick, merupakan control panel untuk memudahkan operator mengoperasikan mesin.
  7. Controller, memiliki beragam fungsi diantaranya; interface antara mesin dengan PC, motor driver sebagai sumber daya bagi pergerakan motor, data storage untuk menyimpan file-file correction atau program penggerak CMM, ADC dan DAC, dll.
  8. Probe Head, berfungsi sebagi trigger bagi CMM untuk merekam posisi koordinat part yang disentuhnya (touch point).  Beberapa CMM dilengkapi non-contact Probe Head untuk mendapatkan touching point yang banyak bisa mencapai ratusan bahkan ribuan point untuk keperluan CAD/ CAM.  Untuk menyentuh part tidak dapat langsung disentuh ke part tetapi harus melalui perantara stylus yang berfungsi sebagi peraba.
  9. Sensor-sensor.  CMM memiliki banyak sensor untuk meningkatkan akurasinya; sensor tersebut diantaranya; temperature sensor, overcurrent sensor, limit switch, home position sensor, air pressure sensor, reading head.
  10. Linear Scale.  Unit ini sebagai transducer untuk merubah perubahan posisi menjadi arus atau tegangan yang kemudian dengan menggunakan software menjadi data-data koordinat X, Y dan Z.
  11. Software.  Merupakan penghubung antara user dengan mesin.
Silahkan download katalog CMM disini untuk lebih detailnya.





sumber : daniw24.blogspot[dot]com

Prinsip Kerja Alat Ukur Surface Roughness Measurement



Alat ini berfungsi untuk mengukur kekasaran dari suatu permukaan.Dengan standar atau properties pengukuran Ra, Rz, Rq, Rmax. Dan denganketelitian alat 0,02 µm. Dalam praktikum ini ingin dicari berapa nilaikekasaran dari permukaan benda uji yaitu berupa metal blok. SurfaceRougness Measurement menguji kekasaran permukaan denganmenggunakan dial indicator sebagai sensor untuk memeriksa profil daripermukaan benda uji.

Komponen dari alat ini yaitu :

• dial indicator,
• bidang uji,
• batang gerak
• skala tekanan
• display
• printer data

Cara kerja dari Surface Roughness Measurement

dapat dijelaskan dengan beberapa langkah, yaitu :

1.Meletakkan benda uji (berupa metal blok)

2.Dial indicator (berupa jarum) diatur sehingga ujung dari dial indicator beradadalam posisi stabil (di tengah skala) pada pembacaan skala tekanan terhadappermukaan objek pengukuran.



3.Sebelum alat dijalankan terlebih dahulu memasukkan faktor-faktor sepertipanjang (length) dari permukaan objek yang ingin diperiksa, standar yangingin digunakan (Ra, Rq, Rz, Rmax, dan parameter lainnya).

4.Pada saat pengambilan data, posisi dial indicator bergerak dengan konstansesuai dengan sumbu horizontal dan sejajar benda uji (berada pada garislurus).


5.Kemudian bila kita telah puas dengan hasil yang didapat maka kita dapatmencetak hasil praktikum dengan printer yang ada pada alat ukur.Dengan ketelitian sebesar 0,02 µm alat ini menghasilkan suatu grafikdengan menunjukkan besaran Ra, Rz, Rq, Rmax yang dapat digunakanuntuk penghitungan dalam kelurusan dan kedataran.

Prinsip Kerja Alat Ukur Roundness Tester

klik image untuk memperbesar gambar

Alat ukur ini berfungsi untuk mengukur profil kebulatan dari suatubenda. Dengan ketelitian alat 0,01 µm.

Untuk mengukur kebulatan dari suatu benda digunakan Roundness Tester . Alat ini menggunakan dial indicator sebagai sensor untuk memeriksaprofil dari permukaan benda uji dan prinsip alat yang digunakan adalah mejaputar.

Komponen dari alat ini yaitu :

•dial indicator
•meja putar
•display
•kompressor

Berdasarkan putaran, maka alat ukur kebulatan(roundness tesfer) dapatdiklasifikasikan menjadi dua, yaitu jenis dengan sensor pular dan jenisdengan meja putar. Pada praktikum dipergunakan tipe meja berputar.Jenis dengan meja putar memiliki karakteristik :

• Karena sensor tidak beputar, berbagai pengukuran yang berkaitan dengankebulatan dapat dilaksanakan, misalnya konsentrisitas, kesamaan sumbu,kesejajaran, kesilindrisan, kelurusan dan ketegaklurusan. Adanyakebebasan untuk menempatkan sensor pada benda ukur yang berputar,misaInya pada alur dan bagian bawah sirip tanpa harus memakai batangsensor yang panjang.

• Pengukuran keIurusan bisa dilakukan dengan menambahkan peralatan untukmenggerakkan sensor dalam arah transvesal (vertikal) tanpa harusmengubah posisi spindel.

• Berat benda ukur terbatas karena keterbatasan kemampuan spindel untukmenahan beban, demi untuk menjamin keteIitian. Penyimpangan Ietak titikberat benda ukur reIatif terhadap sumbu putar.

• Alat pengatur posisi dan kemiringan benda ukur (sentering & leveling) terletakpada meja. OIeh sebab itu, pengaturan secara cermat supaya sumbu objek ukur berimpit dengan sumbu putar, hanya mungkin dilakukan sewaktu mejadalam keadaan tak berputar.

Prinsip Kerja Kompresor Udara

Kompressor adalah mesin untuk memampatkan udara atau gas. Secara umum biasanya mengisap udara dari atmosfer, yang secara fisika merupakan campuran beberapa gas dengan susunan 78% Nitrogren, 21% Oksigen dan 1% Campuran Argon, Carbon Dioksida, Uap Air, Minyak, dan lainnya. Namun ada juga kompressor yang mengisap udara/ gas dengan tekanan lebih tinggi dari tekanan atmosfer dan biasa disebut penguat (booster). Sebaliknya ada pula kompressor yang menghisap udara/ gas bertekanan lebih rendah dari tekanan atmosfer dan biasanya disebut pompa vakum.
Jika suatu gas/ udara didalam sebuah ruangan tertutup diperkecil volumenya, maka gas/ udara tersebut akan mengalami kompresi. Kompressor yang menggunakan azas ini disebut kompressor jenis displacement dan prinsip kerjanya dapat dilukiskan seperti pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.1 : Kompresi Fluida

Disini digunakan torak yang bergerak bolak balik oleh sebuah penggerak mula (prime mover) didalam sebuah silinder untuk menghisap, menekan dan mengeluarkan udara secara berulang-ulang. Dalam hal ini udara tidak boleh bocor melalui celah antara dinding torak dengan dinding silinder yang saling bergesekan. Untuk itu digunakan cincin torak sebagai perapat.
Jika torak ditarik keatas, tekanan dalam silinder dibawah torak akan menjadi negatif (kecil dari tekanan atmosfer) sehingga udara akan masuk melalui celah katup isap.
Kemudian bila torak ditekan kebawah, volume udara yang terkurung dibawah torak akan mengecil sehingga tekanan akan naik.
Berdasarkan prinsip kerjanya, kompressor terdiri dari 2 (dua) jenis yaitu Displacement (torak) seperti dijelaskan diatas dan Dynamic (rotary) yang mengalirkan udara melalui putaran sudu berkecepatan tinggi.
PROSES KOMPRESI UDARA
Proses kompresi udara yang terjadi pada kompressor torak dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan seperti terlihat pada gambar 2.2.
Torak memulai langkah kompresinya pada titik (1) diagram P-V, kemudian bergerak ke kiri dan udara dimampatkan hingga tekanan naik ke titik (2). Pada titik ini tekanan dalam silinder mencapai harga tekanan Pd yang lebih tinggi dari pada tekanan dalam pipa keluar (atau tangki tekan) sehingga katup keluar pada kepala silinder akan terbuka. Jika torak terus bergerak ke kiri, udara akan didorong keluar silinder pada tekanan tetap sebesar Pd. Di titik (3) torak mencapai titik mati atas, yaitu titik akhir gerakan torak pada langkah kompresi dan pengeluaran.

Gambar 2.2 : Diagram P-V dari Kompressor

Pada Gambar 2.3. terlihat bentuk dan susunan konstruksi kompressor yang menjelaskan secara visual bahwa udara masuk melalui air intake filter diisap oleh torak sampai ke titik maksimum bawah. Sebelum masuk ke torak udara didalam kartel bersamaan diisap melalui pipa vacum, sehingga tidak terjadinya vacum di dalam kartel. Kemudian udara yang vacum di silinder keluar melalui pipa vacum.

Gambar 2.3 : Potongan Melintang Kompressor Torak

KONDENSASI UAP AIR

Udara yang dihisap dan dimampatkan didalam kompressor akan mengandung uap air dalam jumlah cukup besar. Jika uap ini didinginkan udara yang keluar dari kompressor maka uap akan mengembun menjadi air. Air ini akan terbawa ke mesin/ peralatan yang menggunakannya dan mengakibatkan gangguan pada pelumasan, korosi dan peristiwa water hammer pada piping system.
Aftercooler adalah heat-exchanger yang berguna untuk mendinginkan udara/ gas keluaran kompresor untuk membuang uap air yang tidak diinginkan sebelum dikirim ke alat lain. Uap air dipisahkan dari udara dengan cara pendinginan dengan air atau oli pendingin. Sumber Ingersoll-Rand [--]. Dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Gambar 2.4 : Aftercooler Kompressor Multi Stage

CONDENSATE DRAIN VALVE

Condensate drain valve ialah bagian dari kompressor yang berfungsi membuang kondensat (uap air) yang terjadi saat kompressor bekerja dengan mengambil udara dari luar, sehingga udara yang masuk ke dalam sistem udara tekan menjadi bersih dan tidak menimbulkan adanya endapan air. Manfaat lainnya pada sistem hidrolik adalah, oli tetap bersih karena kontaminasi dari air telah dibuang melalui Condensate Drain Valve.

Gambar 2.5 : Condensate Drain Valve

sumber : google[dot]com,blogspot[dot]com
Share

Planetcopas